Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2019

Rendra dan Kisah yang Larut di Cangkir Biru

Mama menusuk Papa dengan pisau kecil yang biasa digunakannya untuk memotong batang bunga. Aku tak berkata-kata, menyaksikan adegan itu dari kolong meja di dapur. Pantatku menempel di lantai, kedua kakiku ditekuk dengan tubuh merapat dan tangan yang memeluk erat kakiku sendiri seperti aku sedang melipat diriku sekecil mungkin.

Kamis, 22 November 2018

Sebuah Nama di Kalung Kekasihku

Makan malam sudah berlalu sejak setengah jam. Aku tidak kembali ke kamarku, pun begitu istriku tengah menemani Rey, anak kami, agar lekas tidur. Rencana untuk berkunjung ke taman yang ada di Monas membuatku pergi ke loteng dan mencari sepatu roda yang pernah kugunakan dulu, sebelum menikah, untuk bermain bersama Rey minggu sore nanti.

Aku menurunkan beberapa tumpukan dus, membongkarnya. Aku yakin kalau telah menyimpan sepatu roda berwarna abu-abu itu di salah satu dus dan meletakkannya di sini bersama barang-barang tak terpakai lainnya. Membuatku terus mencari dan melepas selotip yang merekat pada tiap-tiap dus yang mengunci rapatnya.

Rabu, 14 November 2018

Joni

Aku melepas kopiah dan menggunakannya untuk berkipas-kipas sebab di luar cuaca sangat panas, membujurkan kaki dan bersandar ke tembok. Tak terasa bulan puasa sudah hampir sampai di penghujung saja. Membuatku kembali mengingat riuh saat kita masih anak-anak, Mur.

Kau ingat, Joni, anak tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Dia anak berambut ikal yang juga ikut mengaji di surau Kiai Rozaq. Ah, sayangnya dia hanya dua tahun tinggal di kampung ini, tapi meski begitu tak bisa kulupa betapa asyiknya anak itu.

Kamis, 01 Februari 2018

Putri Duyung dan Pengembara

Lily Rosella & Muhammad Hafizat


Luka yang tercipta itu bukan karena salahnya.
Dalam cinta, tidak ada suatu cara untuk mengukur kebenaran.
Bisa jadi itu karena hatimu telah jatuh terlalu dalam.
~Lily Rosella

***

Minggu, 28 Januari 2018

Aku, Kamu, dan Hujan


“Kita tahu semua itu salah, tapi kenapa malah mempersulitnya?” tukas Angga sore itu, tidak setuju dengan saranku.

Kata-katanya mengiang di telingaku, berakar dan kemudian tumbuh semakin lebat, membuat pertanyaan-pertanyaan lain ikut tumbuh. Benar apa yang Angga katakan sore itu, aku hanya keliru, aku hanya terburu-buru. Memutuskan penting atas dasar emosi semata.