Kali ini
Pak Sobar tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya diam mematung menatap kamarnya
yang berantakan, pun laci-laci tempatnya menyimpan perhiasan terbuka lebar.
Wajahnya tertekuk. Tangannya yang nampak jelas urat-urat yang timbul kini
tengah menopang dagunya, pun tangan yang satu terus saja memijit jidatnya
hingga terlihat berkerut juga mengencang seketika.
“Bagaimana
ini, Pak?” tanya Bu Sri, istrinya.