Mama menusuk Papa dengan pisau kecil
yang biasa digunakannya untuk memotong batang bunga. Aku tak berkata-kata,
menyaksikan adegan itu dari kolong meja di dapur. Pantatku menempel di lantai,
kedua kakiku ditekuk dengan tubuh merapat dan tangan yang memeluk erat kakiku
sendiri seperti aku sedang melipat diriku sekecil mungkin.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 April 2019
Kamis, 31 Januari 2019
Edan!
Sunita
Kasih
“Wes toh, muleh!”
“Wes toh, muleh!”
“Halah
wong edan.”
“Ke
mana, Mbah? Mau ke atas lagi?”
“Keakehan duit apa gimana, Mbah?”
Gelak
tawa, cemooh juga bisik-bisik dari sela bibir bermunculan setiap melihat Mbah
Nuryo membawa barang-barang aneh dan pergi ke hutan. Wajar saja, siapa yang tak
heran, dalam usia sedemikian senja, Mbah Nuryo masih saja mondar-mandir bukit
sambil membawa cangkul dan bungkusan hitam.
Kamis, 22 November 2018
Sebuah Nama di Kalung Kekasihku
Makan
malam sudah berlalu sejak setengah jam. Aku tidak kembali ke kamarku, pun
begitu istriku tengah menemani Rey, anak kami, agar lekas tidur. Rencana untuk
berkunjung ke taman yang ada di Monas membuatku pergi ke loteng dan mencari
sepatu roda yang pernah kugunakan dulu, sebelum menikah, untuk bermain bersama
Rey minggu sore nanti.
Aku menurunkan beberapa tumpukan dus, membongkarnya. Aku yakin kalau telah menyimpan sepatu roda berwarna abu-abu itu di salah satu dus dan meletakkannya di sini bersama barang-barang tak terpakai lainnya. Membuatku terus mencari dan melepas selotip yang merekat pada tiap-tiap dus yang mengunci rapatnya.
Aku menurunkan beberapa tumpukan dus, membongkarnya. Aku yakin kalau telah menyimpan sepatu roda berwarna abu-abu itu di salah satu dus dan meletakkannya di sini bersama barang-barang tak terpakai lainnya. Membuatku terus mencari dan melepas selotip yang merekat pada tiap-tiap dus yang mengunci rapatnya.
Rabu, 14 November 2018
Joni
Aku melepas kopiah dan menggunakannya untuk berkipas-kipas sebab di
luar cuaca sangat panas, membujurkan kaki dan bersandar ke tembok. Tak terasa
bulan puasa sudah hampir sampai di penghujung saja. Membuatku kembali mengingat
riuh saat kita masih anak-anak, Mur.
Kau ingat, Joni, anak tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Dia anak berambut ikal yang juga ikut mengaji di surau Kiai Rozaq. Ah, sayangnya dia hanya dua tahun tinggal di kampung ini, tapi meski begitu tak bisa kulupa betapa asyiknya anak itu.
Kau ingat, Joni, anak tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Dia anak berambut ikal yang juga ikut mengaji di surau Kiai Rozaq. Ah, sayangnya dia hanya dua tahun tinggal di kampung ini, tapi meski begitu tak bisa kulupa betapa asyiknya anak itu.
Jumat, 31 Agustus 2018
Kereta-Kereta di Stasiun Osaki
Sepertinya aku memang harus pergi
karena Ayah tak lagi bisa membiayai keperluan sehari-hari atau sekolahku. Rumah
kami terpaksa dijual untuk membayar hutang judi Kakek, meskipun begitu tetap
saja belum cukup untuk melunasinya.
Aku berdiri dekat peron sambil
membenamkan kedua tanganku di saku. Mataku menyapu sekitar, tak banyak orang
yang berada di sini untuk menunggu kedatangan kereta atau orang yang menaikinya
dikarenakan salju turun agak lebat malam ini. Dan kabarnya beberapa kereta
berhenti beroperasi untuk sementara waktu.
Jumat, 25 Mei 2018
Maling
Kali ini
Pak Sobar tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya diam mematung menatap kamarnya
yang berantakan, pun laci-laci tempatnya menyimpan perhiasan terbuka lebar.
Wajahnya tertekuk. Tangannya yang nampak jelas urat-urat yang timbul kini
tengah menopang dagunya, pun tangan yang satu terus saja memijit jidatnya
hingga terlihat berkerut juga mengencang seketika.
“Bagaimana
ini, Pak?” tanya Bu Sri, istrinya.
Kamis, 01 Februari 2018
Putri Duyung dan Pengembara
Lily Rosella
& Muhammad Hafizat
Luka yang tercipta itu bukan karena salahnya.
Dalam cinta, tidak ada suatu cara untuk mengukur
kebenaran.
Bisa jadi itu karena hatimu telah jatuh terlalu dalam.
~Lily Rosella
***
Minggu, 28 Januari 2018
Aku, Kamu, dan Hujan
“Kita tahu semua itu salah, tapi kenapa malah mempersulitnya?” tukas Angga sore
itu, tidak setuju dengan saranku.
Kata-katanya mengiang di telingaku, berakar dan kemudian tumbuh
semakin lebat, membuat pertanyaan-pertanyaan lain ikut tumbuh. Benar apa yang
Angga katakan sore itu, aku hanya keliru, aku hanya terburu-buru. Memutuskan
penting atas dasar emosi semata.
Langganan:
Postingan (Atom)