Mama menusuk Papa dengan pisau kecil
yang biasa digunakannya untuk memotong batang bunga. Aku tak berkata-kata,
menyaksikan adegan itu dari kolong meja di dapur. Pantatku menempel di lantai,
kedua kakiku ditekuk dengan tubuh merapat dan tangan yang memeluk erat kakiku
sendiri seperti aku sedang melipat diriku sekecil mungkin.
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 April 2019
Kamis, 22 November 2018
Sebuah Nama di Kalung Kekasihku
Makan
malam sudah berlalu sejak setengah jam. Aku tidak kembali ke kamarku, pun
begitu istriku tengah menemani Rey, anak kami, agar lekas tidur. Rencana untuk
berkunjung ke taman yang ada di Monas membuatku pergi ke loteng dan mencari
sepatu roda yang pernah kugunakan dulu, sebelum menikah, untuk bermain bersama
Rey minggu sore nanti.
Aku menurunkan beberapa tumpukan dus, membongkarnya. Aku yakin kalau telah menyimpan sepatu roda berwarna abu-abu itu di salah satu dus dan meletakkannya di sini bersama barang-barang tak terpakai lainnya. Membuatku terus mencari dan melepas selotip yang merekat pada tiap-tiap dus yang mengunci rapatnya.
Aku menurunkan beberapa tumpukan dus, membongkarnya. Aku yakin kalau telah menyimpan sepatu roda berwarna abu-abu itu di salah satu dus dan meletakkannya di sini bersama barang-barang tak terpakai lainnya. Membuatku terus mencari dan melepas selotip yang merekat pada tiap-tiap dus yang mengunci rapatnya.
Sabtu, 10 Februari 2018
Kamis, 01 Februari 2018
Putri Duyung dan Pengembara
Lily Rosella
& Muhammad Hafizat
Luka yang tercipta itu bukan karena salahnya.
Dalam cinta, tidak ada suatu cara untuk mengukur
kebenaran.
Bisa jadi itu karena hatimu telah jatuh terlalu dalam.
~Lily Rosella
***
Minggu, 28 Januari 2018
Aku, Kamu, dan Hujan
“Kita tahu semua itu salah, tapi kenapa malah mempersulitnya?” tukas Angga sore
itu, tidak setuju dengan saranku.
Kata-katanya mengiang di telingaku, berakar dan kemudian tumbuh
semakin lebat, membuat pertanyaan-pertanyaan lain ikut tumbuh. Benar apa yang
Angga katakan sore itu, aku hanya keliru, aku hanya terburu-buru. Memutuskan
penting atas dasar emosi semata.
Langganan:
Postingan (Atom)