“Wes toh, muleh!”
“Halah
wong edan.”
“Ke
mana, Mbah? Mau ke atas lagi?”
“Keakehan duit apa gimana, Mbah?”
Gelak
tawa, cemooh juga bisik-bisik dari sela bibir bermunculan setiap melihat Mbah
Nuryo membawa barang-barang aneh dan pergi ke hutan. Wajar saja, siapa yang tak
heran, dalam usia sedemikian senja, Mbah Nuryo masih saja mondar-mandir bukit
sambil membawa cangkul dan bungkusan hitam.